March 29, 2008
Pada sebuah pagi
Jengah!
Kupikir kau akan berbeda
tak secengeng mereka,
menguntitku diam diam
menodongkan pisau ke nadi
menuding,
menyekat dunia
pertanyakan siangku
hey, aku hanya ingin malam!
dan semua yang diberikannya
(termasuk remang lampu
dan harum nafasmu)
Pongah!
Kukira kau juga
hanya memuja rembulan, dan misterius langit
asap mengepul, wangi cherry dan aksara yang tertawa
mengecup dan mengecap rasa tanpa perlu terbawa
tak ngelangut di satu jalin sempit
tak tersesat disatu labirin bodoh berlabel cinta
(seperti mereka yang menguntit, sembunyi, berlari dan mencariku disana)
Harusnya kau tak seperti mereka, kan?
Gerah!
Cuma bikin muak saja
sejenak memang pernah ada euphoria
karena tak terpungkiri, rasa datang dan pergi
tapi bukan janji janji konyol yang mengikat
akui saja, kita menari dan bercinta
sekelabat seperti senja
menyelami hidup (yang katamu mau kaunikmati)
itu, dan hanya itu
malam, dan hanya kelam
peluk, tak ada yang muluk
Lalu kenapa kini kau mau usik siang?
Harusnya aku tak resah
tapi kau jadi cengeng
tapi kau jadi minta asa
padahal semu, nisbi yang pasti
Katamu kau takpapa
aku pergi,
karena ini pagi.
cuando tu te vayas, tu tendras las agallas de decir, yo no te amo como ayer...*
[when you go, will you have the guts to say, i don't love you like i did yesterday ?]
*Inspired by a friend's YM status.
March 28, 2008
[The Shooting Star]
Aku terkadang terdiam menatap bima sakti dari jendelaku. Berharap melebur dengan kerlip. Iri pada cahaya. Jiwa kecil, disindir jutaan terang yang membius. Dan kincir nasib kejam yang seakan tak ada, jadi semu dan waktu bisu. Aku terkadang terdiam, menatap bima sakti dari jendelaku. Berharap melebur dengan kerlip, berharap pada karma, aku jadi satu debu bintang..lebur di sunyi agung sinaran, diam diam mencuri kerling pada sang supernova dan berhenti di kuburan bintang mati.
Dan sang nasib kali ini berbaik hati, padaku yang diledek malam dan ditertawakan kunang-kunang.
[blast! Ia lewat berkelabat!]
[bintang jatuh, ucapkan inginmu!]
(Bagaimana bila...aku tak ingin apa-apa kecuali bintang jatuh itu? )
bisik harap...rapal doa pelan pelan
Dan kerlip menjelma
tepat didepanku...
tanpa memberi tahu.
Dan ia cahaya
Dan ia ada, (Padahal kukira ia cuma dongeng belaka)
Mengecupku lembut,
memeluk hangat di satu buai sinaran
Menyentuh lembut, selembut rahasia
Dan ia berbaring disampingku,
menggambar padang bintang di langit langit kamar
lalu tertawa,
dan mencumbuku di satu sunyi
tak terdefinisi
Ia:
Dan ia bernyanyi
Irama yang tak didengar,lirik yang sesumbar
Andai ia tahu inginnya kucuri nada
Ngelangut di hangat sinar matanya, di lembut bibirnya
Inginnya kututup kelambu,
segel waktu
biar gelap, hanya ia yang menyinari
biar tak ada esok, cahaya bintang tak terganti mentari
bintang jatuh tak harus pergi
Tapi ia cahaya,
berkelabat masuk,
mencuri jiwa
lalu pergi seenaknya...
Dan ia cahaya....
Tak terepih...
Dan ia cahaya,
harap yang dikabulkan...
Bintang jatuh
melesat cepat
tak singgah lama di bumi
tapi ia cahaya,
jejaknya sengat, bakar hati
lalu hilang
dan gelap lagi
Katanya,
Kenang setiap detik terang
ia mutiara, simpan di peti harta karun kecilmu
yang kau intip diam diam saat gelap meyerbu
dan kau lupa seperti apa hangat lembut cahaya
yang mengecup kening saat lelah menyerang
Ia, cahaya...
Bintang jatuh
hilang
pulang
Aku (masih) terkadang terdiam menatap bima sakti dari jendelaku..Berharap jalinan ulir takdir meleburku dengan kerlip. .seperti yang diam diam masih kusimpan erat di kotak rahasia sudut mati jiwa..
(Agar tak cuma ia yang cahaya...)
March 5, 2008
Dari Reza
Enjoy!
...dan berlari....
Aku ingin berlari. Rusuk sakit tercuri peri.
Sayap tumbuh mengejang. Menunggu angin, hati perang.
Mata menahan lalu perlahan terpejam. Tanpa cerita
bintang menempuh malam.
Kenangan tertulis di awan. Ditulis dan terhapus
perlahan. Harapan di langit tanpa batas. Diraih
akhirnya hanya terlepas. Kesempatan satu di antara
bintang. Tidak terlihat walau tidak menghilang.
Langkah mulai terangkat...dan berlari....
(Reza Aryaditha)
[explanation]
"Coba kau sudah melupakanku..
Jadi aku takkan ragu
Coba kau sudah membenciku,
Namun ternyata kau
Seperti dulu,
Masih mencintai angin,
Bergelayut dan bermimpi..
Dan menghirup wangi senja
dan malam yang mulai purnama
Lalu tersenyum padaku
Yang memandang ombak sembari bertanya
Dan salahkan diri"
"Coba kau sudah melupakanku,
Dengan gampangnya mungkin aku akan memelukmu
Dan tak keberatan dengan kecup itu.."
Kenapa kamu belum juga terbang?
Aku selalu tahu kau menyembunyikan sayapmu,
Dan berpura-pura tak punya,
Hingga pada akhirnya kau lupa bahwa takdir ada di angkasa
Dan kau terdiam di tempatmu berpijak kini..
Ingat dulu,
Terus menerus kukatakan,
aku percaya kau akan terbang..
Hingga akhirnya waktuku tiba
melangkah dan menjejak pergi,
Dan melihatmu dari atas sini..
menunggu janji, nanti kau akan kesini
Tapi waktu perlahan pergi, dan janji sukar sekali ditepati..
Tak ingin kehilangan tapi juga tak bisa berlabuh lagi,
karena alam semesta menanti
Kar’na itu, dengarkan aku..
Mungkin angin akan meniup kita ke masa berbeda,
Maka cepatlah terbang, dan setidaknya, kecup dahiku sebentar saja
Dan matari bisa jadi amat terik,
Serta hujan bisa jadi menyebalkan
Maka cepatlah terbang,
dan setidaknya aku tahu udara takkan jadi terlalu sepi
Kenapa kamu belum juga terbang?
Padahal mimpi begitu benderang, sedekat bintang
Satu kepak sayap,
Satu kepak sayap saja..
Dan akan sampai dirimu pada cahaya
Satu kepak sayap,
Satu kepak sayap saja,
Sayap yang sudah kau rajut perlahan dulu,
Dan mungkin kini terlupakan di satu relung, sembunyi..
Padahal kaki tinggal menjejak
Dan sayap akan pasrah pada semesta
Kenapa kamu belum juga terbang?