My blog has moved!

You should be automatically redirected in 6 seconds. If not, visit
http://balonwarnawarni.wordpress.com
and update your bookmarks.

expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

March 14, 2009

The Lolipop Maker



Tengok sejatinya nurani
Kucairkan sebongkah rasa manis dari ruang sanubari
di tungku api yang terbakar rindu tak terperi
dimasak lamatlamat cermat sekali,
oleh waktu yang mempertemukan
[tapi juga menghancurkan]
Lalu semua lembut larutan..
ditambah pecik bumbu kecupan
ah bisa kauhidu wanginya
[seperti samar bau yang masih kurasa di vena dan aliran darahku]
memabukkan indera, menyiksa peka olfaktori jiwa
ah, lega yang menyesakkan, dan pedih yang membebaskan
tak pernah bisa kita coba definisikan apa itu wangi cinta bukan?

Awas, ada panas dan sedikit uap yang membutakan saat ia benar benar matang!
membaurkan batas logika, mimpi, kemustahilan dan impulsivitas
merajang semua yang kaurasa kau tahu tentang nyata dan maya menjadi relativitas
rasakan panasnya yang membakar kulit, seperti hasrat malam yang tak pernah puas
[mereka bilang, selalu hati hati dengan hati...]

Lalu semua pekat manis karamel asa
dituang dalam satu kerangka rapuh bernama asmara
[ah hati hati meletakkannya : kadang ia mudah patah oleh cemburu dan prasangka..]
Lihat kala ia mulai mengisi ruang dan menemukan bentuk..
[seperti waktu itu kita lihat awan yang membentuk semburat lembut bingkai senja]
dan menguat saat ditopang satu kokoh rasa percaya
[atau pada mimpi mau tak mau kita dipaksa percaya 'happy ending' itu ada?]
ah, tak pernah akan ada dua gula gula rasa cinta yang sama,
kujamin padamu...

Ini, satu hati manis berbilur cinta
[kudengar penghuni langit suka pada semua yang terasa manis..]
kuacungkan agar bisa kau lihat dari ketinggianmu disana
Agar kau lihat - ini aku tetap tegak dibumi mencintai
Lihat! ada satu hati memerah bersemu manis untukmu!

Pada sinar langit senja ini...
[ia lembayung, ah tapi tak pernah benarbenar kita perhatikan senja ketika kita bersama bukan? Karena cukum redup temaram dan kecupan - tapi ketika bayu berhasil menarik sayapmu lagi pergi ke awan besar itu, maka apalagi yang bisa kulakukan?]




Lihatkah kau, malaikatku, dari langit tinggimu?
Kuacungkan sebentuk cinta senja ini...

No comments: