Mungkin mereka benar.
Kita hanya kisah kepagian
saat matari terbit terlalu dini
dan bintang terusir pergi
atau malah bunuh diri
Satu jeda halimun dan semua selimut tersibak
dan merona langit malumalu pada semua yang pertama
adakah satu reka, mungkin ini takdir atau hanya kisah yang dipaksa
karena gelap harus buruburu mengepak koper dan pergi
walau masih keenakan mencumbui bumi
dan selingkuh bersama pada semua yang rahasia
Mungkin mereka benar
Seperti itu. Segamblang itu.
Kita hanya kisah yang kepagian
yang mencuricuri menit demi satu pelukan lagi
dan tergopohgopoh pergi, menutupi jejak malam hari
harus pergi begitu dini, seperti halnya janjijanji yang taktahu lagi
ah...
Mungkin.
tapi toh kita pergi
dan merindu lagi
October 6, 2008
kauaku
Ini
hadirmu
pesanmu
kecupmu
pelukmu
sapamu
lepasmu
ah.
kalau
kaubilang
terbanglah
lebihjauh
lebihtinggi
dan tak ingin
kau lihat:aku mati
ditelan bumi
bukan disini
tempatku
hanya satu pijak
pasti
katamu
pintamu
harapmu
sendumu
tangismu
cumbumu
lepasmu
terbangku
raguku
menolehku
bumimu
langitku?
hadirmu
pesanmu
kecupmu
pelukmu
sapamu
lepasmu
ah.
kalau
kaubilang
terbanglah
lebihjauh
lebihtinggi
dan tak ingin
kau lihat:aku mati
ditelan bumi
bukan disini
tempatku
hanya satu pijak
pasti
katamu
pintamu
harapmu
sendumu
tangismu
cumbumu
lepasmu
terbangku
raguku
menolehku
bumimu
langitku?
yang merindu
damba
kau
inginmu
aku : pergi?
an affair (not) to forget
Bukannya aku iri,
atau tibatiba ingin miliki
hanya sekelebat ingintahu
tentangmu
Meraka berkata
ada satu rahasia
atau kelu yang dijaga
agar tak jadi tanya
atau tak luka?
Satu kala:
Saat kau merengkuhku
ke kalbumu,
dan mengizinkanmu
bersandar di dunia kristal kecilku
adakah kau imajikan sedikit saja - sejumput rasa
atau setidaknya memori sel abuabu
yang menjaring keluar kelambu kecil rahasia kita
satu, sedikit saja- sejumput rasa
tentang ia: kekasihmu?
atau tibatiba ingin miliki
hanya sekelebat ingintahu
tentangmu
Meraka berkata
ada satu rahasia
atau kelu yang dijaga
agar tak jadi tanya
atau tak luka?
Satu kala:
Saat kau merengkuhku
ke kalbumu,
dan mengizinkanmu
bersandar di dunia kristal kecilku
adakah kau imajikan sedikit saja - sejumput rasa
atau setidaknya memori sel abuabu
yang menjaring keluar kelambu kecil rahasia kita
satu, sedikit saja- sejumput rasa
tentang ia: kekasihmu?
September 25, 2008
.....
aku menemukan lelakiku di satu ujung senja
saat angin berayun pada pucuk cemara dan wangi laut merona
dan kami bercerita tentang rumput, rimbun, gemericik dan nada
[tapi terlalu takut untuk bicara tentang jiwa]
aku menemukan lelakiku diantara sebaran kertas
dan kedip laptop dan dentam irama kemalaman
sambil menghitung rasi di kisi kisi hati yang retas
ah, ia merengkuh kepalaku ke hangat bahunya
[katakan, bolehkah kuraba sinar matamu?]
aku menemukan lelaiku semalam, diantara kerling lampu
dan temaramnya ciuman, dan aksara yang jadi pelukan
kala naluri adalah nisbi - dan kita takluk pada janji janji
atau saling mereka mimpi, dan enyahkan kenyataan...
[inginnya mencuri waktu...duapuluh menit saja untuk lagi, merengkuhmu...]
aku menemukan lelakiku....
saat angin berayun pada pucuk cemara dan wangi laut merona
dan kami bercerita tentang rumput, rimbun, gemericik dan nada
[tapi terlalu takut untuk bicara tentang jiwa]
aku menemukan lelakiku diantara sebaran kertas
dan kedip laptop dan dentam irama kemalaman
sambil menghitung rasi di kisi kisi hati yang retas
ah, ia merengkuh kepalaku ke hangat bahunya
[katakan, bolehkah kuraba sinar matamu?]
aku menemukan lelaiku semalam, diantara kerling lampu
dan temaramnya ciuman, dan aksara yang jadi pelukan
kala naluri adalah nisbi - dan kita takluk pada janji janji
atau saling mereka mimpi, dan enyahkan kenyataan...
[inginnya mencuri waktu...duapuluh menit saja untuk lagi, merengkuhmu...]
aku menemukan lelakiku....
September 18, 2008
[searching]
Dimana kamu?
memudar.
bareng bayang bayang cat komidi putar tua yang kelamaan
cuma memandang mendung saat kamu bilang disana hujan
tapi tak pasti - mungkin tak pulang hari ini
kosong tak tentu
ungu biru yang pelan pelan hilang
atau disangkal, tak tahu apa itu ada pada rasa yang jalang
dimana kamu, jangan bikin penasaran!
Ah mereka bilang aku berubah
jadi cengeng seperti nostalgi
atau hanya mencari sepercik emosi di lembar lembar lapuk
dan mungkin nyeri ini sedikit terperi
kalau saja tahu.
Dimana kamu?
Akhir akhir ini
kamu yang sembunyi di bayang tak bertepi
dan tak mau tahu -
menurutmu remang remang itu lucu
ah, apapun itu
mungkin selucu gelap
kelambu yang menyembunyikan
kita yang mencuri curi ciuman di taksi tadi malam
dan diam diam pegangan tangan
dan seperti baru dimabuk cinta saja
padahal kau bilang persetan dengan cinta!
Psst, sudahlah
kadang lelah sembunyi sembunyian di labirin
toh kenapa juga...
malas aku mencurimu darinya
kar'na toh kau bukan cahaya
dan aku hanya mencari teduh semata
Mereka bilang aku mungkin mencari lentera
tapi kita cukup puas mengendap endap di lorong gelap
(dan bercumbu dengan rahasia - atau mungkin
mencuri satu, dua kecup lagi)
[ah.lihat kita yang saling membenci lalu kembali lagi untuk menguraikan tanda tanya tak terbaca dan kangen yang aneh pada hangat nisbi ketika kau disisi]
August 3, 2008
Spare me..
Aku melihatnya di satu hari hujan. Bibir yang membiru, mengerucut entah memaki apa, dan jemari gemeletuk kedinginan. Aku berpikir, bisa saja itu aku. Ia tak memohon belas kasihan, hanya menjual koran. kaos yang kumal dan rambut yang basah. Aku menggumam, mungkin saja itu aku. Ia tak terlihat menyayat, hanya satu pandangan mata tajam pada rintik. Dan berita kecelakaan dan perkosaan yang ia baca di headline koran sore itu. Dengan terbalik. Aku menyapanya, bertanya mengapa ia membaca terbalik. Ia menyembunyikan mata tajamnya dibalik sedekap siku. Aku tahu ia jadi malu malu. Aku bertanya, ia kelas berapa. Kelas dua,Aku merasa, bisa saja ia aku. Aku tersenyum dan membeli koran sorenya yang kutahu takkan kubaca. Ah, ia menoleh - lihat sini! ah ia tersenyum - atau, mungkin saja itu aku, tersenyum pada diri sendiri?
Dari pemburu fajar (dan senja) :
kau bertanya:
adakah aku?
Kepala ini pening, seakan seribu peri mendesing
seperti membaca horoskop di koran pagi :
hari ini tak akan ada tawa, hanya sunyi dalam bising
dan mungkin joker yang menikam diri
tak bisa, kuukur jarak demi kamu
tak peduli seberapa inginnya aku
menggali lagi jejak yang sudah kaku
ini aku, memburu fajar dan senja
tak peduli apa aku akan menemukanmu disitu
atau tidak : toh kau nisbi pada rasa tak bernama
(dan aku tak peduli pada luka, toh kita sama sama dewasa)
Dan kala aku tak tahu lagi beda kangen dan cinta,
akankah kau, menghukumku
untuk sekedar ingin tahu kabarmu?
Dan kau masih akan selalu tertidur di pundakku
lalu aku mengecup keningmu, pelan,
dan lenyap di damai mu,
Lalu jadi jengah,
atau itu hanya surya yang menarikku ke angkasa..
jauh. Dan sapamu jadi titik nadir yang bias
menuap di satu jenuh
Dan kala aku tak tahu lagi definisi rasa
akankah kau membenciku,
karena ingin tahu kabarmu?
Subscribe to:
Posts (Atom)