My blog has moved!

You should be automatically redirected in 6 seconds. If not, visit
http://balonwarnawarni.wordpress.com
and update your bookmarks.

expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Showing posts with label firstguy. Show all posts
Showing posts with label firstguy. Show all posts

October 6, 2008

kauaku

Ini
hadirmu
pesanmu
kecupmu
pelukmu
sapamu
lepasmu

ah.
kalau
kaubilang
terbanglah
lebihjauh
lebihtinggi
dan tak ingin
kau lihat:aku mati
ditelan bumi
bukan disini
tempatku
hanya satu pijak
pasti

katamu
pintamu
harapmu
sendumu
tangismu
cumbumu
lepasmu

terbangku
raguku
menolehku
bumimu
langitku?

yang merindu
damba

kau
inginmu
aku : pergi?


August 3, 2008

Dari pemburu fajar (dan senja) :

kau bertanya:
adakah aku?

Kepala ini pening, seakan seribu peri mendesing
seperti membaca horoskop di koran pagi :
hari ini tak akan ada tawa, hanya sunyi dalam bising
dan mungkin joker yang menikam diri

tak bisa, kuukur jarak demi kamu
tak peduli seberapa inginnya aku

menggali lagi jejak yang sudah kaku
ini aku, memburu fajar dan senja
tak peduli apa aku akan menemukanmu disitu
atau tidak : toh kau nisbi pada rasa tak bernama
(dan aku tak peduli pada luka, toh kita sama sama dewasa)

Dan kala aku tak tahu lagi beda kangen dan cinta,
akankah kau, menghukumku
untuk sekedar ingin tahu kabarmu?

Dan kau masih akan selalu tertidur di pundakku
lalu aku mengecup keningmu, pelan,
dan lenyap di damai mu,

Lalu jadi jengah,
atau itu hanya surya yang menarikku ke angkasa..
jauh. Dan sapamu jadi titik nadir yang bias
menuap di satu jenuh

Dan kala aku tak tahu lagi definisi rasa
akankah kau membenciku,
karena ingin tahu kabarmu?

May 28, 2008

Note on a white chocolate and him

Sekeping coklat putih
yang dulu hanya membeku, duduk manis di satu sudut kulkas
Diambilnya, digigit sekeping
manis, katanya
sambil berkata,
kurasa aku jatuh cinta lagi
pada sekeping yang dulu terbuang dan terlupa
Ternyata ia, manisnya masih sama
[baru sadar sekarang?tanyaku dalam diam]
Katanya sambil menikmati rasa

aku senyum saja.
Tak berkata-kata.
[atau mungkin tak bisa]
Karena sudah terlalu lama luka
[dan coklat putih beku tak terlalu enak dimakan lagi]
toh ditinggal terlalu lama
lalu kini datang dan bilang cinta?

Tidak.
Tak bisa.
[seharusnya ia tak jatuh cinta]
apa coklat putih bisa meleleh di mulutnya?





[Lagipula, kenapa harus coklat putih?tak jelas. coklat ya coklat. putih ya putih.....Sama seperti rasa yang kini baur dan kau bilang kau jatuh cinta lagi. Lagi. seperti menemukan seongok coklat putih yang dulu kau bilang tak suka lalu kau tempatkan diujung hati, kan?Lalu kini kau bilang ia manis dan kau gigit sekeping kembali. Mana enak coklat yang hampir basi???]

May 13, 2008

Wait on the premises

bagaimana aku mungkin menerka
tiap sel abu abu di relung kepalamu
dan sinyal neuron yang dikirimkan
hingga suatu saat kuberharap kau berkata, ini rasa

sedikit retak di jiwa,
saat luka merasa dilupakan
dan senja dulu di ilalang menjelma menjelas
tak bisa lagi bilang,
lupakan saja, kita tunggu rasa esok hari

bagaimana aku mungkin menerka
tiap misteri asa di ruang terdalam jiwa
dan sesuatu yang disebut suara hati
jadinya terdengar melankoli

sudah cukup lama, menunggu tanpa ada kata
dan embel embel yang bikin kita muak - bukan lagi waktunya berlelah
tapi toh masih saja, kugenggam bayangmu
di malam malam yang tersunyi
pesan dari ujung sana, tak pernah juga berkata:

tunggu aku.

March 5, 2008

[explanation]

Coba lihat itu, bulan begitu benderang..

Dejavu membawa mereka ke satu tepian nasib.. mendamparkan seenak perutnya. Ia mengingat luka-luka. sang pria diam, memandang gelap..dan diam-diam meliriknya. Entahlah, kita bertemu di saat yang salah, pikirnya. "Dia tak lagi bersamamu?" Sang pria akhirnya bersuara. Ia menggeleng lemah. Terlalu banyak malam yang ia sia-siakan merindukan pria itu. Memandang ke trotoar dari berandanya, berharap suatu hari ia akan lewat dan mendongak, lalu tersenyum dan melambai seperti dulu, berlatar belakang rembulan yang kontras dengan senyum lebarnya- tapi sang pria tak pernah lewat. Hingga ia akhirnya menemukan pria lain, yang tidak hanya lewat di jalan depan, tapi mengetuk pintunya. Masuk ke rumahnya, mencumbunya pelan dan membuatnya termanggu pada ramai kehidupan yang selalu ia lihat dalam diam dari berandanya - dan menggandengnya keluar, mengajaknya terbuai pada cahaya, menikmati ramai bising jalan dan meneguk saripati hari. Ia tak pernah ke beranda lagi. Hingga ia mabuk dan mencinta hidup, lebih dari ia mencinta pria lain ini...yang dengan senyum dan air mata melepasnya saat ia berkata ia ingin berlayar. ke pulau-pulau jauh, mengabadikan senja dan ombak, berlari kemana angin berdesir. Sampai di tepian satu waktu dimana ia lelah dan sebentar istirah di satu pantai tak bernama. Dan disitu, ia menemukan memori lama. Pada sang pria, yang mengelana mencari dirinya sendiri (dan entah bagaimana tahu tentang pria lain yang dulu mengetuk pintunya dan mengenalkannya pada udara). Ia berbisik pelan, pelan sekali...


"Coba kau sudah melupakanku..

Jadi aku takkan ragu

Coba kau sudah membenciku,

Namun ternyata kau

Seperti dulu,

Masih mencintai angin,

Bergelayut dan bermimpi..

Dan menghirup wangi senja

dan malam yang mulai purnama

Lalu tersenyum padaku

Yang memandang ombak sembari bertanya

Dan salahkan diri"

"Coba kau sudah melupakanku,

Dengan gampangnya mungkin aku akan memelukmu

Dan tak keberatan dengan kecup itu.."

Ngantuk

" Aku ngantuk"

Kalau ada kamu disini, pasti mataku sudah terpejam dari tadi. Karena kamu pun tahu, di sandarmu damai dan nyenyakku. Pasti kau diam-diam kecup keningku, dan satu bisik selamat malam pelan-pelan mengambang di udara. Dan saat aku setengah bangun, kamu merapalkan satu doa dan berkata, "ayo, kamu berdoa dulu".Lalu memandangku lembut, selembut lampu yang pasti kau redupkan.

"Aku ngantuk"

Kalau ada dirinya disini, saat aku bilang "aku ngantuk"..Ia pasti menyibakkan selimut, dan menggembungkan bantal, dan aku akan istirah di satu hangat tak terdefinisi saat ia matikan lampu, lalu mengelus rambutku dengan jemarinya, dan satu nina bobo membuai ringan. "Selamat tidur..", katanya. Seakan dunia hanya untuk malam ini saja.

Aku ngantuk.
Merindumu.
Merindunya.

Ingin sekali dipeluk...

[beginning]

Mau memberitahumu,
Malam ini aku mulai lagi bercanda
Dengan pena jingga yang tak sengaja
kau tinggalkan di sudut kamar, dulu

malam ini aku mengetuk pintu kata-kata
merayunya, biar ia mengintip keluar sebentar
mengajaknya ngopi
(atau segelas champagne, kalau ia mau)
Lalu mungkin nanti ia berbaik hati
Pinjamkan wujudnya di sesosok puisi

malam ini, buku sketsa lama
(yang mestinya bercinta dengan lembut grafit dan krayon)
masih setia,
menggandeng tanganku dan tersenyum pelan
" walau tak kau janjikan rima berwarna,
ayo bermimpi sama sama malam ini", katanya

Aku. Pena Jingga. Buku Sketsa
Dan kata-kata(yang melenggang seiring lantunan jazz di kamarku)

Mau memberi tahu mu
(Nampaknya, kami akan senang-senang malam ini....)