My blog has moved!

You should be automatically redirected in 6 seconds. If not, visit
http://balonwarnawarni.wordpress.com
and update your bookmarks.

expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Showing posts with label fragmen2. Show all posts
Showing posts with label fragmen2. Show all posts

October 26, 2008

Tetapi...

Hati yang patah retak
kubalut plester warna warni
dan rupa rupa untuk menutupi.....

Tapi ada sesosok yang menjejak jauhnya waktu,
untukku yang lelah bermimpi
Tapi ada sesosok yang bangunkan hati dengan puisi
dan berbisik, izinkan aku ada untukmu

Sayap yang tinggal separuh,
ringkih kecil
tak percaya lagi pada langit

Tapi ada sesosok yang menyapa pada dingin malam
dan selimuti diri dengan kecup sayang
yang tertata lewat kata kata dan rima temaram
Tapi ada sesosok yang dulu juga kehilangan separuh sayapnya
dan walau menyabung hati , ia yakinkan : kita akan baik baik saja

Airmata yang mengering di dinding hati
yang pada cat lunturnya diamdiam aku menghitung hari
sampai saat ia tak lagi didera sunyi

Tapi ada sesosok yang beresonansi
dan tasbihkan sedikit saja percik hangat
yang saat ini cukup untuk semesta hati...


Tapi ada, sesosok kamu:)







Tribute to someone who made my day brighter

October 24, 2008

Flashback....

Bukan tapak jejak yang terhapus gerimis...


Kita dulupun tak tahu
(dan bertanya tanya lagi kini)
Mengapa pada hari hujan itu,
kita memilih berpisah jalan

Dan aku tak lagi menengok pada bayangmu
yang diam diam terus menungguku pulang,
Dan sakit yang ditanggung sendiri
ketika kau bilang dunia kaca kita mungkin retak pelan pelan
adakah waktu tak berpihak pada kita, dulu?

Dan aku tak lagi mengidahkan mohonmu
yang diamdiam masih inginkan aku pulang
ke bahu yang pada rebahnya dulu kurajut damai
Ingatkah ketika musim semi dan kita berjanji,
akan selalu membagi jiwa?

Kita yang sampai sekarang masih tak tahu
mengapa pada hujan malam itu,
kau dan aku merobek kata kita
jadi huruf huruf tak bermakna....

Dan mungkin memang lentera terlalu tua untuk menyala lagi, kecupku
tapi kau akan selalu punya aku dan semua percik memori
tentang pagi, siang, sore dan malam
Karena kau sempat menapak lama jelas di hati
bukan tapak jejak terhapus gerimis

Yang masih saja, kita tak tahu
mengapa di gerimis itu, dulu....

April 15, 2008

NightFlight

Aku memanggilnya ke loteng apartemen. Malam masih nyalang, dan bintang masih terang. Ia datang, mukanya masih sembab. Aku tak tahu dan tak mahu tahu. Aku harus bilang sesuatu.

"Aku mau pergi"
Ia diam. Kurasa ia sudah tahu.
"Mengejar mimpi"
Ia masih diam. Aku lelah menjadi pusat dunianya. Aku lelah dengan menyerahnya. Aku lelah menjadi mimpinya.

"Aku hanya ingin membuktikan diri"
Ia tepekur. Mukanya pucat.. Apa mungkin semua cerita peri-pangeran-dan-putri pasti berakhir bahagia? Ia tahu, di kisahnya sang putri mungkin malah melarikan diri saat keajaiban terjadi.

"Boleh aku pegang tanganmu?", pintanya
Aku tergelak pelan. Ia tak berubah, bertahun-tahun mengenalnya. Aku memegang tangannya pelan.

"Ini bukan tentangmu. Aku hanya ingin mengenal diriku"

Ia terdiam. Menunduk, meremas tanganku, seakan itu bisa memaku sayapku di bumi. Tapi kali ini, aku ingin terbang sendiri. Setelah bertahun-tahun bersama cahaya, kali ini aku ingin terbang sendiri malam hari.

"Kadang cahaya membutakan, sayang. Dan aku jadi pusing, dan semua jadi baur, tak jelas. Udara jadi terlalu ringan. Aku butuh diriku, untuk menjadi pusat duniaku sendiri, bukan hanya pusat duniamu. Aku jadi bingung sendiri, dan bukankah semua jadi lebih jelas saat aku mengambil jarak?"

Ia meneguk segelas wine ditangannya, dan menghabiskannya. Seakan gelembung gelembung manisnya bisa membunuh sakit yang kini tertera jelas di wajahnya yang menahan luka.

Aku mengembangkan sayapku. Ia masih memegang tanganku erat, seakan jika ia melepasnya ia kehilangan semua nyawanya. Rembulan menyinari matanya yang setengah basah.

"Aku mencintaimu"

Aku tersenyum kecut. Kita sama-sama tahu bahwa cinta saja tak pernah cukup. Ia tahu mencintai Nawangwulan adalah sebuah kesalahan. Aku tahu bahwa pada akhirnya sayap akan menuntut takdirnya, bahwa bumi masih terlalu menakutkan. Aku mencium keningnya. Seperti anak-anak kecil yang berlarian di taman, bergandeng tangan dan mengalungkan bunga, membentuknya jadi cincin, berbagi dunia rahasia yang hanya milik berdua. Tapi toh saat malam tiba, kita harus pulang, kan?

"Sampai bertemu besok pagi"

Aku mengernyit. Ia begitu yakin pagi akan memanggilku kembali. Apalah. terserah.

"Aku pergi..maaf"

March 26, 2008

[mr.trapesium]

Kemarin
aku menggenggam tangannya
dan masih sama,
aku mulai bercerita

tentang kunang kunang yang cahayanya meredup
dan enggan terbang
tahu kalau sinar kecil tak cukup terangi malam

tentang melintasi hutan
wangi yang tak dikenal
dan liarnya belukar, serta lusuh hijau biru hidup

tentang pisau, sayap yang terpanah
kaki yang mulai pincang
dan buram baur pandangan
tangan yang tak lagi menggapai
tubuh terdiam malas, menanti ruh

tentang dunia sihir yang tak nada lagi
dan kastil peri runtuh
kunci kunci gerbang yang ditinggalkan
berserakan

Kemarin
aku menggenggam tangannya
dan masih sama,
aku menggenggam tangannya, lama
berbisik senyap,

pinjamkan aku kekuatanmu, sedikit saja...

Kemarin
aku menggenggam tangannya
dan melihatnya tersenyum samar
sesamar lilin redup
yang menghangatkan gubuk kecil saat badai
dan ia ikut-ikut berbisik

kamu kuat, peri kecil..
tanpa perlu sedikit sihir

kemarin,
aku menggenggam tangannya
dan tersihir

March 5, 2008

[explanation]

Coba lihat itu, bulan begitu benderang..

Dejavu membawa mereka ke satu tepian nasib.. mendamparkan seenak perutnya. Ia mengingat luka-luka. sang pria diam, memandang gelap..dan diam-diam meliriknya. Entahlah, kita bertemu di saat yang salah, pikirnya. "Dia tak lagi bersamamu?" Sang pria akhirnya bersuara. Ia menggeleng lemah. Terlalu banyak malam yang ia sia-siakan merindukan pria itu. Memandang ke trotoar dari berandanya, berharap suatu hari ia akan lewat dan mendongak, lalu tersenyum dan melambai seperti dulu, berlatar belakang rembulan yang kontras dengan senyum lebarnya- tapi sang pria tak pernah lewat. Hingga ia akhirnya menemukan pria lain, yang tidak hanya lewat di jalan depan, tapi mengetuk pintunya. Masuk ke rumahnya, mencumbunya pelan dan membuatnya termanggu pada ramai kehidupan yang selalu ia lihat dalam diam dari berandanya - dan menggandengnya keluar, mengajaknya terbuai pada cahaya, menikmati ramai bising jalan dan meneguk saripati hari. Ia tak pernah ke beranda lagi. Hingga ia mabuk dan mencinta hidup, lebih dari ia mencinta pria lain ini...yang dengan senyum dan air mata melepasnya saat ia berkata ia ingin berlayar. ke pulau-pulau jauh, mengabadikan senja dan ombak, berlari kemana angin berdesir. Sampai di tepian satu waktu dimana ia lelah dan sebentar istirah di satu pantai tak bernama. Dan disitu, ia menemukan memori lama. Pada sang pria, yang mengelana mencari dirinya sendiri (dan entah bagaimana tahu tentang pria lain yang dulu mengetuk pintunya dan mengenalkannya pada udara). Ia berbisik pelan, pelan sekali...


"Coba kau sudah melupakanku..

Jadi aku takkan ragu

Coba kau sudah membenciku,

Namun ternyata kau

Seperti dulu,

Masih mencintai angin,

Bergelayut dan bermimpi..

Dan menghirup wangi senja

dan malam yang mulai purnama

Lalu tersenyum padaku

Yang memandang ombak sembari bertanya

Dan salahkan diri"

"Coba kau sudah melupakanku,

Dengan gampangnya mungkin aku akan memelukmu

Dan tak keberatan dengan kecup itu.."

Kenapa kamu belum juga terbang?

Aku selalu tahu kau menyembunyikan sayapmu,
Dan berpura-pura tak punya,
Hingga pada akhirnya kau lupa bahwa takdir ada di angkasa
Dan kau terdiam di tempatmu berpijak kini..

Ingat dulu,
Terus menerus kukatakan,
aku percaya kau akan terbang..
Hingga akhirnya waktuku tiba
melangkah dan menjejak pergi,
Dan melihatmu dari atas sini..
menunggu janji, nanti kau akan kesini
Tapi waktu perlahan pergi, dan janji sukar sekali ditepati..

Tak ingin kehilangan tapi juga tak bisa berlabuh lagi,
karena alam semesta menanti
Kar’na itu, dengarkan aku..
Mungkin angin akan meniup kita ke masa berbeda,
Maka cepatlah terbang, dan setidaknya, kecup dahiku sebentar saja

Dan matari bisa jadi amat terik,
Serta hujan bisa jadi menyebalkan

Maka cepatlah terbang,
dan setidaknya aku tahu udara takkan jadi terlalu sepi

Kenapa kamu belum juga terbang?
Padahal mimpi begitu benderang, sedekat bintang
Satu kepak sayap,
Satu kepak sayap saja..
Dan akan sampai dirimu pada cahaya
Satu kepak sayap,
Satu kepak sayap saja,
Sayap yang sudah kau rajut perlahan dulu,
Dan mungkin kini terlupakan di satu relung, sembunyi..
Padahal kaki tinggal menjejak
Dan sayap akan pasrah pada semesta

Kenapa kamu belum juga terbang?

Ngantuk

" Aku ngantuk"

Kalau ada kamu disini, pasti mataku sudah terpejam dari tadi. Karena kamu pun tahu, di sandarmu damai dan nyenyakku. Pasti kau diam-diam kecup keningku, dan satu bisik selamat malam pelan-pelan mengambang di udara. Dan saat aku setengah bangun, kamu merapalkan satu doa dan berkata, "ayo, kamu berdoa dulu".Lalu memandangku lembut, selembut lampu yang pasti kau redupkan.

"Aku ngantuk"

Kalau ada dirinya disini, saat aku bilang "aku ngantuk"..Ia pasti menyibakkan selimut, dan menggembungkan bantal, dan aku akan istirah di satu hangat tak terdefinisi saat ia matikan lampu, lalu mengelus rambutku dengan jemarinya, dan satu nina bobo membuai ringan. "Selamat tidur..", katanya. Seakan dunia hanya untuk malam ini saja.

Aku ngantuk.
Merindumu.
Merindunya.

Ingin sekali dipeluk...