October 24, 2008
Flashback....
Kita dulupun tak tahu
(dan bertanya tanya lagi kini)
Mengapa pada hari hujan itu,
kita memilih berpisah jalan
Dan aku tak lagi menengok pada bayangmu
yang diam diam terus menungguku pulang,
Dan sakit yang ditanggung sendiri
ketika kau bilang dunia kaca kita mungkin retak pelan pelan
adakah waktu tak berpihak pada kita, dulu?
Dan aku tak lagi mengidahkan mohonmu
yang diamdiam masih inginkan aku pulang
ke bahu yang pada rebahnya dulu kurajut damai
Ingatkah ketika musim semi dan kita berjanji,
akan selalu membagi jiwa?
Kita yang sampai sekarang masih tak tahu
mengapa pada hujan malam itu,
kau dan aku merobek kata kita
jadi huruf huruf tak bermakna....
Dan mungkin memang lentera terlalu tua untuk menyala lagi, kecupku
tapi kau akan selalu punya aku dan semua percik memori
tentang pagi, siang, sore dan malam
Karena kau sempat menapak lama jelas di hati
bukan tapak jejak terhapus gerimis
Yang masih saja, kita tak tahu
mengapa di gerimis itu, dulu....
March 26, 2008
[mr.trapesium]
aku menggenggam tangannya
dan masih sama,
aku mulai bercerita
tentang kunang kunang yang cahayanya meredup
dan enggan terbang
tahu kalau sinar kecil tak cukup terangi malam
tentang melintasi hutan
wangi yang tak dikenal
dan liarnya belukar, serta lusuh hijau biru hidup
tentang pisau, sayap yang terpanah
kaki yang mulai pincang
dan buram baur pandangan
tangan yang tak lagi menggapai
tubuh terdiam malas, menanti ruh
tentang dunia sihir yang tak nada lagi
dan kastil peri runtuh
kunci kunci gerbang yang ditinggalkan
berserakan
Kemarin
aku menggenggam tangannya
dan masih sama,
aku menggenggam tangannya, lama
berbisik senyap,
pinjamkan aku kekuatanmu, sedikit saja...
Kemarin
aku menggenggam tangannya
dan melihatnya tersenyum samar
sesamar lilin redup
yang menghangatkan gubuk kecil saat badai
dan ia ikut-ikut berbisik
kamu kuat, peri kecil..
tanpa perlu sedikit sihir
kemarin,
aku menggenggam tangannya
dan tersihir
March 5, 2008
[explanation]
"Coba kau sudah melupakanku..
Jadi aku takkan ragu
Coba kau sudah membenciku,
Namun ternyata kau
Seperti dulu,
Masih mencintai angin,
Bergelayut dan bermimpi..
Dan menghirup wangi senja
dan malam yang mulai purnama
Lalu tersenyum padaku
Yang memandang ombak sembari bertanya
Dan salahkan diri"
"Coba kau sudah melupakanku,
Dengan gampangnya mungkin aku akan memelukmu
Dan tak keberatan dengan kecup itu.."
Kenapa kamu belum juga terbang?
Aku selalu tahu kau menyembunyikan sayapmu,
Dan berpura-pura tak punya,
Hingga pada akhirnya kau lupa bahwa takdir ada di angkasa
Dan kau terdiam di tempatmu berpijak kini..
Ingat dulu,
Terus menerus kukatakan,
aku percaya kau akan terbang..
Hingga akhirnya waktuku tiba
melangkah dan menjejak pergi,
Dan melihatmu dari atas sini..
menunggu janji, nanti kau akan kesini
Tapi waktu perlahan pergi, dan janji sukar sekali ditepati..
Tak ingin kehilangan tapi juga tak bisa berlabuh lagi,
karena alam semesta menanti
Kar’na itu, dengarkan aku..
Mungkin angin akan meniup kita ke masa berbeda,
Maka cepatlah terbang, dan setidaknya, kecup dahiku sebentar saja
Dan matari bisa jadi amat terik,
Serta hujan bisa jadi menyebalkan
Maka cepatlah terbang,
dan setidaknya aku tahu udara takkan jadi terlalu sepi
Kenapa kamu belum juga terbang?
Padahal mimpi begitu benderang, sedekat bintang
Satu kepak sayap,
Satu kepak sayap saja..
Dan akan sampai dirimu pada cahaya
Satu kepak sayap,
Satu kepak sayap saja,
Sayap yang sudah kau rajut perlahan dulu,
Dan mungkin kini terlupakan di satu relung, sembunyi..
Padahal kaki tinggal menjejak
Dan sayap akan pasrah pada semesta
Kenapa kamu belum juga terbang?
Ngantuk
"Aku ngantuk"
Aku ngantuk.
Merindumu.
Merindunya.
Ingin sekali dipeluk...