Take off your coat...
Put off your umbrella, little Lady...
Move on,
Put on a smile, little Lady
Storm's over, Rain's over...
There might be no rainbow,
but a clear sky in your soul..
Erase the tears,
Forget the fears,
It's all said and done, little Lady..
Smile, little Lady,
See the horizon and smile...
September 29, 2009
After the rain..
Nona kecil mendongak memandang langit
Badai pergi, dibawa tiupan bayu, basah hujan berlalu
dan dia mencari pelangi : menuntut janji tentang warna , dan bahagia
yang harusnya datang setelah hantaman badai meraja
Tapi ini malam hari, nona...
Tak ada matahari, apalagi pelangi
cuma lamat lembut sapu bayu, lintang terang dan bulan di langit cerah : indah bukan?
meski bukan bianglala yang selalu terbawa mimpi
cukup cakrawala tenang dan selimut lembut cahaya chandra
cukup remang temaram dan hey! lihat ada satu kerlip mengedip!
[percayalah nona kecil, ini damai tak terdefinisi - tak peduli seberapa kelam hari]
Badai pergi, dibawa tiupan bayu, basah hujan berlalu
dan dia mencari pelangi : menuntut janji tentang warna , dan bahagia
yang harusnya datang setelah hantaman badai meraja
Tapi ini malam hari, nona...
Tak ada matahari, apalagi pelangi
cuma lamat lembut sapu bayu, lintang terang dan bulan di langit cerah : indah bukan?
meski bukan bianglala yang selalu terbawa mimpi
cukup cakrawala tenang dan selimut lembut cahaya chandra
cukup remang temaram dan hey! lihat ada satu kerlip mengedip!
[percayalah nona kecil, ini damai tak terdefinisi - tak peduli seberapa kelam hari]
Silently Sit...
Duduk diam saja ya...
Karena kau bukan sang dewi
yang dielu-elukan dan diperjuangkan
hingga titi8k lelah penghabisan
jadi akankah kau duduk diam, saja?
melihat ksatria ksatria bersliweran mencari putri untuk diselamatkan?
atau para maharani dari kerajaan bersulam awan
melihat ksatria menghunus pedang menebas naga,
[tak pernah demimu...]
Diam saja!
bermimpi itu melelahkan
bangun dan meregang nyata jadi menyakitkan
hey, jangan mencintai!
kali ini dengarkan nurani : duduk manis, diam..
jangan biarkan airmata terajam..
Hey, bagaimana lagi agar kau mendengarkan?
setelah tamparan..
pelukan...
cacian...
penyerahan...
ini pertanda, gadis kecil..
tak ada yang bisa kuat meregang untuk seorang keras kepala
tak ada yang bertahan terbang disambing hembus sayap niskala
[yang kini pun ku tak yakin kau masih punya]
Jadi kali ini, jangan nakal!
jangan mencinta!
jangan percaya!
jangan terbaca!
Lelah, kan?
Duduk diam, saja...
Karena kau bukan sang dewi
yang dielu-elukan dan diperjuangkan
hingga titi8k lelah penghabisan
jadi akankah kau duduk diam, saja?
melihat ksatria ksatria bersliweran mencari putri untuk diselamatkan?
atau para maharani dari kerajaan bersulam awan
melihat ksatria menghunus pedang menebas naga,
[tak pernah demimu...]
Diam saja!
bermimpi itu melelahkan
bangun dan meregang nyata jadi menyakitkan
hey, jangan mencintai!
kali ini dengarkan nurani : duduk manis, diam..
jangan biarkan airmata terajam..
Hey, bagaimana lagi agar kau mendengarkan?
setelah tamparan..
pelukan...
cacian...
penyerahan...
ini pertanda, gadis kecil..
tak ada yang bisa kuat meregang untuk seorang keras kepala
tak ada yang bertahan terbang disambing hembus sayap niskala
[yang kini pun ku tak yakin kau masih punya]
Jadi kali ini, jangan nakal!
jangan mencinta!
jangan percaya!
jangan terbaca!
Lelah, kan?
Duduk diam, saja...
September 22, 2009
[Mati Suri]
Kali ini si gadis kecil kehilangan daya untuk menulis.
Ia sudah membunuh bintang yang kerlipnya menginspirasi.
Ia sudah memadamkan lentera yang meneranginya merangkai kata
Ia sudah mematahkan penanya, dan membuang tinta aksara.
Kali ini si gadis kecil ingin istirahat saja.
Mencari bintang baru..
Atau mungkin bila bintang terlalu tinggi dan menyilaukan,
kali ini selintas kunangkunang di pelupuk genggam tangan sudah cukup
Menyalakan lentera baru..
Atau mungkin bila terlalu penat untuk sekedar menyalakan lentera,
kali ini sebentuk kecil lilin bisa memadu pelita dan jadi hangat jiwa
Mencari pena baru,
Mengisinya dengan tinta
yang mungkin bukan lagi warna pelangi,
tapi cukup bening hujan dan kelam malam...
Gadis kecil, undur diri sebentar saja....
Ia sudah membunuh bintang yang kerlipnya menginspirasi.
Ia sudah memadamkan lentera yang meneranginya merangkai kata
Ia sudah mematahkan penanya, dan membuang tinta aksara.
Kali ini si gadis kecil ingin istirahat saja.
Mencari bintang baru..
Atau mungkin bila bintang terlalu tinggi dan menyilaukan,
kali ini selintas kunangkunang di pelupuk genggam tangan sudah cukup
Menyalakan lentera baru..
Atau mungkin bila terlalu penat untuk sekedar menyalakan lentera,
kali ini sebentuk kecil lilin bisa memadu pelita dan jadi hangat jiwa
Mencari pena baru,
Mengisinya dengan tinta
yang mungkin bukan lagi warna pelangi,
tapi cukup bening hujan dan kelam malam...
Gadis kecil, undur diri sebentar saja....
September 7, 2009
Hibernasi
Tanpa tanda tanya.
Dan sudah seharusnya.
Tanpa tanda tanya.
Dan disini kita : berhenti.
[dan berkaca]
Hening saja,
dan dengar.
Jarak yang direka
Tanpa tanda tanya
after all..
Dan sudah seharusnya.
Tanpa tanda tanya.
Dan disini kita : berhenti.
[dan berkaca]
Hening saja,
dan dengar.
Jarak yang direka
Tanpa tanda tanya
after all..
August 6, 2009
...it feels to be angry
I wish I knew how...
...Dari semua sendu dan penat yang lamatlamat mengganggu,
ingin teriak terisak tumpahkan semua sesak kemukamu!
karena jadi lembam semua gerak dan geram jadi takteredam...
Terinjak hati, mengapa kau takpernah hatihati?
Berdarah,
seperti satu manis yang terjarah..
Terantuk,
seperti amarah yang dikutuk..
Tapi takpernah bisa
takpernah tahu..
ah, takkan pernah kaulihat badaiku di langit kita...
I just wish I knew how...
...Dari semua sendu dan penat yang lamatlamat mengganggu,
ingin teriak terisak tumpahkan semua sesak kemukamu!
karena jadi lembam semua gerak dan geram jadi takteredam...
Terinjak hati, mengapa kau takpernah hatihati?
Berdarah,
seperti satu manis yang terjarah..
Terantuk,
seperti amarah yang dikutuk..
Tapi takpernah bisa
takpernah tahu..
ah, takkan pernah kaulihat badaiku di langit kita...
I just wish I knew how...
May 13, 2009
Ode to a firefly...
...kunang kunang kecil
ia tersesat dimimpiku tadi malam
tentang pedihnya tebang dalam kabut
dan tak tahu arah - semua benar mengkerut
tadinya kunang kunang kecil punya rembulan
tapi terusir oleh kota dan gemerelap pijar neon terang
tadinya kunang kunang kecil punya rembulan
besar dan bersinar walau tak pernah tersentuh
tapi terusmenerus dicinta dan dipuja : kesana arah langkah
...kunang kunang mungil
ia tersedu di mimpiku tadi malam,
pelan pelan sinarnya meredup
hingga buyar semua kerlip suara sayup
Kata kunang kunang:
Kau tahu mengapa aku bersinar?
aku ingin mirip sang rembulan,
yang sempurna penyinar dan penunjuk arahku
aku ingin juga bersinar, walau kecil
namun kini
rembulan mati
kunang kunang mungil dikhianati...
ia terbang limbung
dan tersesat di pinggir jendela
terserak di ujung cerita
mimpiku tadi malam...
[ah kunangkunang,
rembulan itu
kekasih sejati
sang matahari,
ia pemantul sinar,
dari sejatinya surya yang memancar...
Jadi kunang kunang,
jangan iri,
atau mau mati...?]
ia tersesat dimimpiku tadi malam
tentang pedihnya tebang dalam kabut
dan tak tahu arah - semua benar mengkerut
tadinya kunang kunang kecil punya rembulan
tapi terusir oleh kota dan gemerelap pijar neon terang
tadinya kunang kunang kecil punya rembulan
besar dan bersinar walau tak pernah tersentuh
tapi terusmenerus dicinta dan dipuja : kesana arah langkah
...kunang kunang mungil
ia tersedu di mimpiku tadi malam,
pelan pelan sinarnya meredup
hingga buyar semua kerlip suara sayup
Kata kunang kunang:
Kau tahu mengapa aku bersinar?
aku ingin mirip sang rembulan,
yang sempurna penyinar dan penunjuk arahku
aku ingin juga bersinar, walau kecil
namun kini
rembulan mati
kunang kunang mungil dikhianati...
ia terbang limbung
dan tersesat di pinggir jendela
terserak di ujung cerita
mimpiku tadi malam...
[ah kunangkunang,
rembulan itu
kekasih sejati
sang matahari,
ia pemantul sinar,
dari sejatinya surya yang memancar...
Jadi kunang kunang,
jangan iri,
atau mau mati...?]
May 11, 2009
On the bus ride ...
Bayang tandus..
Dan siluet tajam yang berusaha meraihmu,
melintasi kebingungan udara, ditiap osilasi sinyal jiwa..
merepih tiap detik suaramu
[kudengar kau dari ujung kejauhan sana :
bagaimana hariku, tanyamu]
Ah, hariku akan terus menerus terik, bukan?
Katamu intiku matahari, tapi semua fusi kini buatku ingin mencekik hati
kerontang ditelan gersang,
ah kamu!
Puaskan dahagaku, rembulanku, dengan malam malam berselimut degup jantung kala rentang khatulistiwa menjelma luas dunia dalam peluk sejukmu, kala benderang bintang diatas oase adalah renyah tawamu, rima senyummu, dan dingin angin menyesap kala kuterdiam menikmati seteguk damai di kokoh pundakmu.
[di ujung sana : kutanya kabarmu, apa kau baikbaik saja?
Suaramu mengambang jauh. Terakhir kau bilang, ingin segera tidur saja...]
Ah,
Sampai jumpa di mimpi?
[tempat khatulistiwa dan gurun melebur
tak berarti
di rindu
tak terperi....]
Dan siluet tajam yang berusaha meraihmu,
melintasi kebingungan udara, ditiap osilasi sinyal jiwa..
merepih tiap detik suaramu
[kudengar kau dari ujung kejauhan sana :
bagaimana hariku, tanyamu]
Ah, hariku akan terus menerus terik, bukan?
Katamu intiku matahari, tapi semua fusi kini buatku ingin mencekik hati
kerontang ditelan gersang,
ah kamu!
Puaskan dahagaku, rembulanku, dengan malam malam berselimut degup jantung kala rentang khatulistiwa menjelma luas dunia dalam peluk sejukmu, kala benderang bintang diatas oase adalah renyah tawamu, rima senyummu, dan dingin angin menyesap kala kuterdiam menikmati seteguk damai di kokoh pundakmu.
[di ujung sana : kutanya kabarmu, apa kau baikbaik saja?
Suaramu mengambang jauh. Terakhir kau bilang, ingin segera tidur saja...]
Ah,
Sampai jumpa di mimpi?
[tempat khatulistiwa dan gurun melebur
tak berarti
di rindu
tak terperi....]
Subscribe to:
Posts (Atom)